Selamat Datang di Blognya Para Perawat Narziz


Kamis, 14 Juli 2011

In My 21 Years Old...........(150711)


* Paling utama, ucap syukur ke My Lovely Allah
   Alhamdulillah masih diberi kehidupan sampai detik ini

* Mau jadi orang yang lebih dewasa, lebih bisa menahan dan mengendalikan emosi

* Bisnis lancar dan kuliah juga lancar
   (harus wisuda tahun ini,,,,, ^_^)

* Pengen dapet kado spesial dari orang yang spesial,,,
   (ngarep banget,,,,emang siapa yang dibilang orang spesial????   ^_^)

* Pengen dapet surprise party yang bener - bener buat aku terharu
   T_T

* Pengen ngumpul ma keluarga waktu ultahku
   (kaya'x ga bisa deh, hmmm,,,,,lupakan! Lain waktu ja,,,, T_T)

* Pengen lebih baik dari sebelumnya
   (Bimsalabim, semua yang buruk berubahlah jadi baik, hehehe,,,)

* Pengen beli HP baru
   (ngintip celengan cuma dikit, huft lupakan, mending kumpulkan uang'x buat beli kebaya wisuda, he)

* Pengen dapat pacar yang nantinya jadi pendampingku
   (Hmm, kalau ada yang mau, ga pake pacaran deh, kalo dah sama - sama cocok, kawin yuk,,,^_^)

* Pengen buat Ibu Bapak bangga, ga pengen liat Ibu Bapak sedih lagi, terutama Ibu.

* Pengen cepet kerja, ngumpulin uang buat kuliah lagi, pengen nabung buat ongkos sekolah Dede Alan
   (Mumpung Dede baru masuk SD senin kemarin,,,biar Dede juga bisa kuliah ntar,,,^_^)

* Pengen punya usaha sendiri
   (Ada yang berminat ngajak kerja sama? Hehe,,,,)

* Pengen semua'x deh,,,   (Maklum manusia ga ada puas'x, hohoho,,,,yang penting syukuri yang ada)

   AMIIN YA RABBAL ALAMIN

                                                                   Suherna Kasmia






Puisi Ulang Tahun

Rentang waktu
Terkadang membuat kita lupa
Bahwa kita semakin dewasa

Rentang waktu
Terkadang membuat kita lupa
Bahwa kita telah melanggar titah Yang Kuasa

Rentang waktu
Terkadang membuat kita sadar
Bahwa kita hanya manusia
Yang tak punya apa-apa
Selain jasad yang tak berguna

Rentang waktu
Terkadang membuat kita sadar
Bahwa Tuhan tidak melihat harta dan rupa
Melainkan hati yang ada di dalam dada
Dan amal jasad yang lata

Walau Einstein berkata bahwa rentang waktu itu berbeda
Tergantung dalam keadaan apa kita berada
Namun Tuhan telah berkata,
“Hanya Akulah yang tahu umur manusia”.
Sekular barat berkata,
“Waktu adalah dollar di dalam kantung”
Namun Hasan Al-Bana berkata,
“Waktu adalah pedang, potong atau terpotong”.

Waktu…..
Alam terus menari dalam simfoninya
Waktu…..
Umur manusia didikte olehnya
Waktu….. setiap detaknya
Memakukan kita di persimpangan jalan
Jalan Tuhan atau jalan setan

Rentang waktu…..
Semoga tak melalaikan kita
Tuk terus berjalan di jalan-Nya

Rabu, 13 Juli 2011

ASKEP LANSIA

LAPORAN PENDAHULUAN


a.        Pengertian Lansia
Menurut Undang - Undang No. 13 Tahun 1998 dinyatakan bahwa usia 60 tahun keatas adalah yang paling layak disebut usia lanjut. (Tamher, S dan Noorkasiani, 2009: 1)
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (Nugroho, 2000: 19) batasan lanjut usia adalah:
1)         Usia pertengahan (middle age), ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun
2)         Lanjut usia (elderly) usia antara 60 sampai 74 tahun
3)         Lanjut usia tua (old) usia antara 75 sampai 90 tahun
4)         Usia sangat tua (very old) usia diatas 90 tahun
Menurut Guru Besar Universitas Gajah Mada pada fakultas kedokteran, Prof. Dr. Ny. Sumiati Ahmad Mohammad (alm), masa lanjut usia (senium) berumur 65 tahun ke atas. (Nugroho, 2000: 19)
Menurut Prof. Dr. Koesoemato Satyonegoro (Nugroho, 2000: 20) batasan lansia meliputi:
1)         Lansia (Geriatric age) lebih dari 65 atau 70 tahun
2)         Lanjut usia muda (Young old) usia 70 – 75 tahun
3)         Lanjut usia tua (old) usia 75 – 80 tahun
4)         Usia sangat tua (very old) usia lebih dari 80 tahun
Smith dan Smith (1999), menggolongkan usia lanjut menjadi tiga, yaitu young old (65 – 74 tahun), middle old (75 – 84 tahun), dan old-old (lebih dari 85 tahun).
Setyonegoro (1984) menggolongkan bahwa yang disebut usia lanjut adalah orang yang berusia lebih dari 65 tahun. Selanjutnya terbagi kedalam usia 70 – 75 tahun (young old), 75 – 80 tahun (old), dan lebih dari 80 tahun (very old). (Tamher, S dan Noorkasiani, 2009: 2)
Kalau dilihat pembagian umur beberapa ahli tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa yang disebut lansia adalah orang yang telah berumur 60 atau 65 tahun keatas.




b.        Proses Menua (Ageing Process)
Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan – lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita. (Constantinides, 1994 dalam Nugroho, 2000: 13)
Proses menua merupakan proses yang terus – menerus (berlanjut) secara alamiah. Dimulai sejak lahir dan umumnya dialami pada semua makhluk hidup. (Nugroho, 2000: 13)

c.         Teori Penuaan
1)        Teori Biologi
Teori ini berfokus pada proses fisiologi dalam kehidupan seseorang dari lahir sampai meninggal. Teori biologi dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu :
a)        Teori Jam Genetik
Menurut Hayflick (1965), secara genetik sudah terprogam bahwa material di dalam inti sel dikatakan bagaikan memiliki jam genetis terkait dengan frekuensi mitosis. Teori ini didasarkan pada kenyataan bahwa spesies – spesies tertentu memiliki harapan hidup yang tertentu pula. Manusia yang mempunyai rentang kehidupan maksimal sekitar 110 tahun, sel – selnya diperkirakan hanya mampu membelah sekitar 50 kali, sesudah itu akan mengalami deteriorasi.
b)        Teori Interaksi Seluler
Bahwa sel – sel satu sama lain saling berinteraksi dan mempengaruhi. Keadaan tubuh akan baik – baik saja selama sel – sel masih berfungsi dalam suatu harmoni. Akan tetapi, bila tidak lagi demikian, maka akan terjadi kegagalan mekanisme feed back dimana lambat laun sel – sel akan mengalami degenerasi. (Berger, 1994 dalam Tamher, S dan Noorkasiani, 2009: 19)
c)        Teori Mutagenesis Somatik
Bahwa begitu terjadi pembelahan sel (mitosis), akan terjadi “mutasi spontan” yang terus – menerus berlangsung dan akhirnya mengarah pada kematian sel.
d)       Teori Eror Katastrop
Bahwa eror akan terjadi pada struktur DNA, RNA, dan sintesis protein. Masing – masing eror akan saling menambah pada eror yang lainnya dan berakumulasi dalam eror yang bersifat katastrop (Kane, 1994 dalam Tamher, S dan Noorkasiani, 2009: 19)
e)        Teori Pemakaian dan Keausan
Teori biologis yang paling tua adalah teori pemakaian dan keausan (tear and wear), dimana tahun demi tahun hal ini berlangsung dan lama – kelamaan akan timbul deteriorasi.

2)        Teori Psikologi (Psychologic Theories Aging)
Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang berespon pada tugas perkembangannya.
a)        Teori Hierarki Kebutuhan Manusia Maslow (Maslow’s Hierarchy of Human Needs)
Dari hierarki Maslow kebutuhan dasar menusia dibagi dalam lima tingkatan dari mulai yang terendah kebutuhan fisiologi, rasa aman, kasih sayang, harga diri sampai pada yang paling tinggi yaitu aktualisasi diri. Seseorang akan memenuhi kebutuhan tersebut dari mulai tingkat yang paling rendah menuju ke tingkat yang paling tinggi.
b)        Teori Individualism Jung (Jung’s Theory of Individualism)
Menurut Carl Jung sifat dasar menusia terbagi menjadi dua yaitu ekstrovert dan introvert. Individu yang telah mencapai lansia dia akan cenderung introvert, dia lebih suka menyendiri seperti bernostalgia tentang masa lalunya.
c)      Teori Delapan Tingkat Perkembangan Erikson (Erikson’s Eight Stages of Life)
Menurut Erikson tugas perkembangan terakhir yang harus dicapai individu adalah ego integrity vs disapear. Jika individu tersebut sukses mencapai tugas ini maka dia akan berkembang menjadi individu yang arif dan bijaksana (menerima dirinya apa adanya, merasa hidup penuh arti, menjadi lansia yang bertanggung jawab dan kehidupannya berhasil). Namun jika individu tersebut gagal mencapai tahap ini maka dia akan hidup penuh dengan keputusasaan (lansia takut mati, penyesalan diri, merasakan kegetiran dan merasa terlambat untuk memperbaiki diri).
d)     Optimalisasi Selektif dengan Kompensasi (Selective Optimization with Compensation)
Menurut teori ini, kompensasi terhadap penurunan tubuh ada 3 elemen yaitu:


(1)   Seleksi
Adanya penurunan dari fungsi tubuh karena proses penuaan maka mau tidak mau harus ada peningkatan pembatasan terhadap aktivitas sehari-hari.
(2)   Optimalisasi
Lansia tetap mengoptimalkan kemampuan yang masih dia punya guna meningkatkan kehidupannya.
(3)   Kompensasi
Aktivitas-aktivitas yang sudah tidak dapat dijalakan arena proses penuaan diganti dengan aktifitas-aktifitas lain yang mungkin bisa dilakukan dan bermanfaat bagi lansia.

3)        Teori Kultural
Ahli antropologi menjelaskan bahwa tempat kelahiran seseorang berpengaruh pada budaya yang dianut oleh seseorang.
Blakemore dan Boneham yang melakukan penelitian pada kelompok tua di Asia dan Afro – Caribbean menjelaskan bahwa kaum tua merupakan komunitas yang minoritas yang dapat menjamin keutuhan etnik, ras dan budaya.
Sedangkan Salmon menjelaskan tentang konsep “ Double Jeoparoly “ yang digunakan untuk karakteristik pada penuaan.
Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa budaya yang dimiliki seseorang sejak lahir akan tetap dipertahankan sampai tua. Bahkan mempengaruhi orang – orang disekitaryauntuk mengikuti budaya tersebut sehingga tercipta kelestarian budaya.

4)        Teori Spiritual
Pada dasarnya, ketika seseorang menjadi tua akan menjadi :
a)         Menjauhkan diri dari hawa nafsu duniawi.
b)        Melaksanakan amanah agama yang dianut, dengan berdoa demi kententraman hidup pribadi dan orang lain.
c)         Menuju penyempurnaan diri dan mengarah pada pencerahan atau pemenuhan diri untuk dapat mengarah pada kemanunggalan dengan Illahi.
Melalui pengalaman hidup, setiap orang akan berupaya menjadi lebih arif dan akan mengembangkan dirinya ke lebih yang berarti : melalui prestasi yang diraihnya di kala muda, seseorang akan berupaya meraih nilai-nilai luhur di hari tua – khususnya keserasian hidup dengan lingkungannnya.
Kegiatan-kegiatan di atas tersebut menyiapkan usia lanjut untuk kembali secara sempurna dan utuh ke pangkuan Illahi.

d.      Perubahan – Perubahan yang Terjadi Pada Lansia
1)        Perubahan – perubahan Fisik
a)      Sel
Lebih sedikit jumlahnya, lebih besar ukurannya, berkurangnya jumlah cairan tubuh dan berkurangnya cairan intraseluler, menurunnya proporsi protein otak, otot, ginjal, darah dan hati, jumlah sel otak menurun, dan terganggunya mekanisme perbaikan sel.
b)      Sistem Persyarafan
Cepatnya menurun hubungan persyarafan, lambat dalam respon dan waktu untuk bereaksi (khususnya dengan stress), mengecilnya saraf panca indera, dan kurang sensitif terhadap sentuhan.
c)      Sistem Pendengaran
Prebiaskusis atau hilangnya kemampuan (daya) pendengaran pada telnga dalam, terutama terhadap bunyi suara atau nada – nada yang tinggi. Membrani timpani menjadi atrofi menyebabkan otosklerosis, terjadinya pengumpulan cerumen dapat mengeras karena meningkatnya keratin.
d)     Sistem Penglihatan
Hilangnya respon terhadap cahaya, kornea lebih berbentuk sferis (bola), lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa) menjadi katarak, daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat, menurunnya lapangan pandang (berkurangnya luas pandangannya).
e)      Sistem Kardiovaskuler
Katup jantung menebal dan menjadi kaku, kemampuan jantung memompa darah menurun, kehilangan elastisitas pembuluh darah, dan tekanan darah meningkat.
f)       Sistem Pengaturan Temperatur Tubuh
Temperatur tubuh menurun (hipotermi) akibat metabolisme yang menurun dan keterbatasan refleks menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak sehingga terjadi rendahnya aktivitas otot.

g)      Sistem Respirasi
Otot – otot pernafasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku, menurunnya aktivitas silia, paru – paru kehilangan elastisitas, menarik nafas lebih berat, kedalaman bernafas menurun, kemampuan untuk batuk berkurang.
h)      Sistem Gastrointestinal
Kehilangan gigi, indera penyecap menurun, esofagus melebar, sensitifitas lapar menurun, asam lambung menurun, peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi, liver makin mengecil dan menurunnya tempat penyimpanan.
i)        Sistem Reproduksi
Menciutnya ovarium dan uterus, atrofi payudara, pada laki – laki testis masih memproduksi spermatozoa meskipun ada penurunan, dorongan seksual menetap sampai usia diatas 70 tahun, selaput lendir vagina menurun.
j)        Sistem Genitourinaria
Ginjal mengecil dan nefron menjadi atrofi, aliran darah ke ginjal menurun, otot – otot vesika urinaria menjadi lemah, frekuensi buang air seni meningkat, pembesaran prostat pada pria diatas 65 tahun.
k)      Sistem Endokrin
Produksi dari hampir semua hormon menurun, fungsi paratiroid dan sekresinya tidak berubah, menurunnya fungsi aldosteron, menurunnya sekresi hormon kelamin.
l)        Sistem Kulit (integumen)
Kulit mengerut atau keriput, permukaan kulit kasar dan bersisik, kulit kepala dan rambut menipis, berkurangnya elastisitas kulit, kelenjar keringat berkurang jumlahnya dan fungsinya.
m)    Sistem Muskuloskeletal
Tulang kehilangan density (cairan) dan makin rapuh, persendian membesar dan menjadi kaku, atrofi serabut otot.

2)        Perubahan – perubahan Mental
a)      Kenangan (Memory)
Faktor – faktor yang mempengaruhi perubahan mental adalah perubahan fisik, kesehatan umum, tingkat pendidikan, keturunan, dan lingkungan.
Ø   Kenangan jangka panjang:
Berjam – jam sampai berhari – hari yang lalu mencakup beberapa perubahan.
Ø   Kenangan jangka pendek atau seketika:
0 – 10 menit, kenangan buruk.
b)      I.Q (Intellgentia Quantion)
Tidak berubah dengan informasi matematika dan perkataan verbal. Berkurangnya penampilan, persepsi dan keterampilan psikomotor, terjadi perubahan pada daya membayangkan karena tekanan – tekanan dari faktor waktu.



3)        Perubahan – perubahan Psikososial
Pensiun, merasakan atau sadar akan kematian, perubahan dalam cara hidup, ekonomi akibat pemberhentian dari jabatan, penyakit kronis dan ketidakmampuan, kehilangan hubungan dengan teman dan family, hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik.

4)        Perkembangan Spiritual
Agama dan kepercayaan makin terintegrasi dalam kehidupannya, lansia makin matur dalam kehidupan keagamaannya.

Selasa, 12 Juli 2011

TRAUMA THORAX

I. KONSEP DASAR
A.    Pengertian
Trauma thorax adalah semua ruda paksa pada thorax dan dinding thorax, baik trauma atau ruda paksa tajam atau tumpul. (Lap. UPF bedah, 1994).
Hematotorax adalah tedapatnya darah dalam rongga pleura, sehingga paru terdesak dan terjadinya perdarahan.
Pneumotorax adalah terdapatnya udara dalam rongga pleura, sehingga paru-paru dapat terjadi kolaps.

B.     Anatomi
1.      Anatomi Rongga Thoraks
                  Kerangka dada yang terdiri dari tulang dan tulang rawan, dibatasi  oleh :
        - Depan         : Sternum dan tulang iga.
        - Belakang     : 12 ruas tulang belakang (diskus intervertebralis).
        - Samping      : Iga-iga beserta otot-otot intercostal.
        - Bawah        : Diafragma
   - Atas           : Dasar leher.
Isi :
ò        Sebelah kanan dan kiri rongga toraks terisi penuh oleh paru-paru beserta pembungkus pleuranya.
ò Mediatinum : ruang di dalam rongga dada antara kedua paru-paru. Isinya meliputi jantung dan pembuluh-pembuluh darah besar, oesophagus, aorta desendens, duktus torasika dan vena kava superior, saraf vagus dan frenikus serta sejumlah besar kelenjar limfe (Pearce, E.C., 1995).

Patofisiologi
Trauma Thorax

Mengenai rongga toraks sampai                      Terjadi robekan Pemb. Darah intercostal,
rongga pleura, udara bisa                                  pemb.darah jaringan paru-paru.
masuk (pneumothorax)




                                                                                Terjadi perdarahan :
Karena tekanan negative intrapleura             (perdarahan jaringan intersititium, perarahan intraalveolar
Maka udara luar akan terhisap masuk          diikuti kolaps kapiler kecil-kecil dan atelektasi)
ke rongga pleura (sucking wound)
                                                                                                tahanan perifer pembuluh paru naik
                                                                                                (aliran darah turun)
- Open penumothorax
- Close pneumotoraks                                                        = ringan kurang 300 cc ® di punksi
- Tension pneumotoraks                                                    = sedang 300 - 800 cc ® di pasang drain
                                                                                                = berat lebih 800 cc ® torakotomi
Tek. Pleura meningkat terus
                                                                                                Tek. Pleura meningkat terus
                                                                                                mendesak paru-paru
                                                                                                (kompresi dan dekompresi)

                                                                                                pertukaran gas berkurang
- sesak napas yang progresif                             = sesak napas yang progresif
  (sukar bernapas/bernapas berat)         = nyeri bernapas / pernafsan asimetris/adanya jejas atau trauma
- nyeri bernapas                                                   = pekak dengan batas jelas/tak jelas.
- bising napas berkurang/hilang                        = bising napas tak terdengar
- bunyi napas sonor/hipersonor                        = nadi cepat/lemah
- poto toraks gambaran udara lebih ¼                anemis / pucat
dari rongga torak                                                 = poto toraks 15 - 35 % tertutup bayangan








WSD/Bullow Drainage


-          terdapat luka pada WSD                          - Kerusakan integritas kulit
-          nyeri pada luka bila untuk                       - Resiko terhadap infeksi
 bergerak.                                                       - Perubahan kenyamanan : Nyeri
 perawatan WSD harus di                          - Ketidak efektifan pola pernapasan
 perhatikan.                                                   - Gangguan mobilitas fisik
-          Inefektif bersihan jalan napas                - Potensial Kolaboratif : Atelektasis dan
                                                                                 Pergeseran mediatinum

C.    Pemeriksaan Penunjang :
a.       Photo toraks (pengembangan paru-paru).
b.      Laboratorium (Darah Lengkap dan Astrup).

D.    Penatalaksanaan
1.      Bullow  Drainage / WSD
Pada trauma toraks, WSD dapat berarti :
a.      Diagnostik :
Menentukan perdarahan dari pembuluh darah besar atau kecil, sehingga dapat ditentukan perlu operasi torakotomi atau tidak, sebelum penderita jatuh dalam shock.
b.      Terapi :
Mengeluarkan darah atau udara yang terkumpul di rongga pleura. Mengembalikan tekanan rongga pleura sehingga "mechanis of breathing" dapat kembali seperti yang seharusnya.
c.       Preventive :
Mengeluarkan udaran atau darah yang masuk ke rongga pleura sehingga "mechanis of breathing" tetap baik.

2.      Perawatan WSD dan pedoman latihanya :
a.    Mencegah infeksi di bagian masuknya slang.
Mendeteksi di bagian dimana masuknya slang, dan pengganti verband 2 hari sekali, dan perlu diperhatikan agar kain kassa yang menutup bagian masuknya slang dan tube tidak boleh dikotori waktu menyeka tubuh pasien.
b.    Mengurangi rasa sakit dibagian masuknya slang. Untuk rasa sakit yang hebat akan diberi analgetik oleh dokter.
c.     Dalam perawatan yang harus diperhatikan :
-            Penetapan slang.
Slang diatur se-nyaman mungkin, sehingga slang yang dimasukkan tidak terganggu dengan bergeraknya pasien, sehingga rasa sakit di bagian masuknya slang dapat dikurangi.
-            Pergantian posisi badan.
Usahakan agar pasien dapat merasa enak dengan memasang bantal kecil dibelakang, atau memberi tahanan pada slang, melakukan pernapasan perut, merubah posisi tubuh sambil mengangkat badan, atau menaruh bantal di bawah lengan atas yang cedera.
d.    Mendorong berkembangnya paru-paru.
ò        Dengan WSD/Bullow drainage diharapkan paru mengembang.
ò        Latihan napas dalam.
ò        Latihan batuk yang efisien : batuk dengan posisi duduk, jangan batuk waktu slang diklem.
ò        Kontrol dengan pemeriksaan fisik dan radiologi.

e.     Perhatikan keadaan dan banyaknya cairan suction.
Perdarahan dalam 24 jam setelah operasi umumnya 500 - 800 cc. Jika perdarahan dalam 1 jam melebihi 3 cc/kg/jam, harus dilakukan torakotomi. Jika banyaknya hisapan bertambah/berkurang, perhatikan juga secara bersamaan keadaan pernapasan.
f.     Suction harus berjalan efektif :
Perhatikan setiap 15 - 20 menit selama 1 - 2 jam setelah operasi dan setiap 1 - 2 jam selama 24 jam setelah operasi.
ò           Perhatikan banyaknya cairan, keadaan cairan, keluhan pasien, warna muka, keadaan pernapasan, denyut nadi, tekanan darah.
ò           Perlu sering dicek, apakah tekanan negative tetap sesuai petunjuk jika suction kurang baik, coba merubah posisi pasien dari terlentang, ke 1/2 terlentang atau 1/2 duduk ke posisi miring bagian operasi di bawah atau di cari penyababnya misal : slang tersumbat oleh gangguan darah, slang bengkok atau alat rusak, atau lubang slang tertutup oleh karena perlekatanan di dinding paru-paru.

g.    Perawatan "slang" dan botol WSD/ Bullow drainage.
1)   Cairan dalam botol WSD diganti setiap hari , diukur berapa cairan yang keluar kalau ada dicatat.
2)   Setiap hendak mengganti botol dicatat pertambahan cairan dan adanya gelembung udara yang keluar dari bullow drainage.
3)   Penggantian botol harus "tertutup" untuk mencegah udara masuk yaitu meng"klem" slang pada dua tempat dengan kocher.
4)   Setiap penggantian botol/slang harus memperhatikan sterilitas botol dan slang harus tetap steril.
5)   Penggantian harus juga memperhatikan keselamatan kerja diri-sendiri, dengan memakai sarung tangan.
6)   Cegah bahaya yang menggangu tekanan negatip dalam rongga dada, misal : slang terlepas, botol terjatuh karena kesalahan dll.

h.    Dinyatakan berhasil, bila :
a.       Paru sudah mengembang penuh pada pemeriksaan fisik dan radiologi.
b.      Darah cairan tidak keluar dari WSD / Bullow drainage.
c.       Tidak ada pus dari selang WSD.

3.      Pemeriksaan penunjang
a.       X-foto thoraks 2 arah (PA/AP dan lateral)
b.      Diagnosis fisik :
Ø  Bila pneumotoraks < 30% atau hematothorax ringan (300cc) terap simtomatik, observasi.
Ø  Bila pneumotoraks > 30% atau hematothorax sedang (300cc) drainase cavum pleura dengan WSD, dainjurkan untuk melakukan drainase dengan continues suction unit.
Ø  Pada keadaan pneumothoraks yang residif lebih dari dua kali harus dipertimbangkan thorakotomi
Ø  Pada hematotoraks yang massif (terdapat perdarahan melalui drain lebih dari 800 cc segera thorakotomi.

4.      Terapi :
a.       Antibiotika..
b.      Analgetika.
c.       Expectorant.

E.     Komplikasi
1.      tension penumototrax
2.      penumotoraks bilateral
3.      emfiema

II. KONSEP KEPERAWATAN

A.                Pengkajian :

Point yang penting dalam riwayat keperawatan :
1.      Umur : Sering terjadi usia 18 - 30 tahun.
2.      Alergi terhadap obat, makanan tertentu.
3.      Pengobatan terakhir.
4.      Pengalaman pembedahan.
5.      Riwayat penyakit dahulu.
6.      Riwayat penyakit sekarang.
7.      Dan Keluhan.

B.                 Pemeriksaan Fisik :

1.      Sistem Pernapasan :
ò         Sesak napas
ò         Nyeri, batuk-batuk.
ò         Terdapat retraksi klavikula/dada.
ò         Pengambangan paru tidak simetris.
ò         Fremitus menurun dibandingkan dengan sisi yang lain.
ò         Pada perkusi ditemukan Adanya suara sonor/hipersonor/timpani, hematotraks (redup)
ò         Pada asukultasi suara nafas menurun, bising napas yang berkurang/menghilang.
ò         Pekak dengan batas seperti garis miring/tidak jelas.
ò         Dispnea dengan aktivitas ataupun istirahat.
ò         Gerakan dada tidak sama waktu bernapas.

2.      Sistem Kardiovaskuler :
ò        Nyeri dada meningkat karena pernapasan dan batuk.
ò        Takhikardia, lemah
ò        Pucat, Hb turun /normal.
ò        Hipotensi.

3.      Sistem Persyarafan :
ò           Tidak ada kelainan.

4.      Sistem Perkemihan.
ò           Tidak ada kelainan.

  1. Sistem Pencernaan :
ò           Tidak ada kelainan.

  1. Sistem Muskuloskeletal - Integumen.
ò         Kemampuan sendi terbatas.
ò         Ada luka bekas tusukan benda tajam.
ò         Terdapat kelemahan.
ò         Kulit pucat, sianosis, berkeringat, atau adanya kripitasi sub kutan.

  1. Sistem Endokrine :
ò         Terjadi peningkatan metabolisme.
ò         Kelemahan.

  1. Sistem Sosial / Interaksi.
ò         Tidak ada hambatan.

  1. Spiritual :
ò         Ansietas, gelisah, bingung, pingsan.

10.          Pemeriksaan Diagnostik :
ò         Sinar X dada : menyatakan akumulasi udara/cairan pada area pleural.
ò         Pa Co2 kadang-kadang menurun.
ò         Pa O2 normal / menurun.
ò         Saturasi O2 menurun (biasanya).
ò         Hb mungkin menurun (kehilangan darah).
ò         Toraksentesis : menyatakan darah/cairan,

Diagnosa Keperawatan :
1.      Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ekpansi paru yang tidak maksimal karena akumulasi udara/cairan.
2.      Inefektif bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan sekresi sekret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan.
3.      Perubahan kenyamanan : Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan reflek spasme otot sekunder.
4.      Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan ketidakcukupan kekuatan dan ketahanan untuk ambulasi dengan alat eksternal.
5.      Resiko Kolaboratif : Akteletasis dan Pergeseran Mediatinum.
6.      Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma mekanik terpasang bullow drainage.
7.      Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organisme sekunder terhadap trauma.

F.     Intevensi Keperawatan :
1.      Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ekspansi paru yang tidak maksimal karena trauma.
Tujuan : Pola pernapasan efektive.
Kriteria hasil :
ò        Memperlihatkan frekuensi pernapasan yang efektive.
ò        Mengalami perbaikan pertukaran gas-gas pada paru.
ò        Adaptive mengatasi faktor-faktor penyebab.

Intervensi :
a.       Berikan posisi yang  nyaman, biasanya dnegan peninggian kepala tempat tidur. Balik ke sisi yang sakit. Dorong klien untuk duduk sebanyak mungkin.
R/ Meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan ekpsnsi paru dan ventilasi pada sisi yang tidak sakit.
b.      Obsservasi fungsi pernapasan, catat frekuensi pernapasan, dispnea atau perubahan tanda-tanda vital.
R/ Distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebgai akibat stress fifiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan terjadinya syock sehubungan dengan hipoksia.
c.       Jelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk menjamin keamanan.
R/ Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.
d.      Jelaskan pada klien tentang etiologi/faktor pencetus adanya sesak atau kolaps paru-paru.
R/ Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.
e.       Pertahankan perilaku tenang, bantu pasien untuk kontrol diri dnegan menggunakan pernapasan lebih lambat dan dalam.
R/ Membantu klien mengalami efek fisiologi hipoksia, yang dapat dimanifestasikan sebagai ketakutan/ansietas.
f.       Perhatikan alat bullow drainase berfungsi baik, cek setiap 1 - 2 jam :
1)      Periksa pengontrol penghisap untuk jumlah hisapan yang benar.
R/ Mempertahankan tekanan negatif intrapleural sesuai yang diberikan, yang meningkatkan ekspansi paru optimum/drainase cairan.
2)      Periksa batas  cairan pada botol penghisap, pertahankan pada batas yang ditentukan.
R/ Air penampung/botol bertindak sebagai pelindung yang mencegah udara atmosfir masuk ke area pleural.
3)      Observasi gelembung udara botol penempung.
R/ gelembung udara selama ekspirasi menunjukkan lubang angin dari penumotoraks/kerja yang diharapka. Gelembung biasanya menurun seiring dnegan ekspansi paru dimana area pleural menurun. Tak adanya gelembung dapat menunjukkan ekpsnsi paru lengkap/normal atau slang buntu.
4)      Posisikan sistem drainage slang untuk fungsi optimal, yakinkan slang tidak terlipat, atau menggantung di bawah saluran masuknya ke tempat drainage. Alirkan akumulasi dranase bela perlu.
R/ Posisi tak tepat, terlipat atau pengumpulan bekuan/cairan pada selang mengubah tekanan negative yang diinginkan.
5)      Catat karakter/jumlah drainage selang dada.
R/ Berguna untuk mengevaluasi perbaikan kondisi/terjasinya perdarahan yang memerlukan upaya intervensi.
g.      Kolaborasi dengan tim kesehatan lain :
1)      Dengan dokter, radiologi  dan fisioterapi.
ò        Pemberian antibiotika.
ò        Pemberian analgetika.
ò        Fisioterapi dada.
ò        Konsul photo toraks.
R/Mengevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya.

2.      Inefektif bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan sekresi sekret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan.

Tujuan :  Jalan napas lancar/normal

Kriteria hasil :
ò        Menunjukkan batuk yang efektif.
ò        Tidak ada lagi penumpukan sekret di sal. pernapasan.
ò        Klien nyaman.

Intervensi :
a.       Jelaskan klien tentang kegunaan batuk yang efektif dan mengapa terdapat penumpukan sekret di sal. pernapasan.
R/ Pengetahuan yang diharapkan akan membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.
b.      Ajarkan klien tentang metode yang tepat pengontrolan batuk.
R/ Batuk yang tidak terkontrol adalah melelahkan dan tidak efektif, menyebabkan frustasi.
1)      Napas dalam dan perlahan saat duduk setegak mungkin.
R/ Memungkinkan ekspansi paru lebih luas.
2)      Lakukan pernapasan diafragma.
R/ Pernapasan diafragma menurunkan frek. napas dan meningkatkan ventilasi alveolar.
3)      Tahan napas selama 3 - 5  detik kemudian secara perlahan-lahan, keluarkan sebanyak mungkin melalui mulut.
4)      Lakukan napas ke dua , tahan dan batukkan dari dada dengan melakukan 2 batuk pendek dan kuat.
R/ Meningkatkan volume udara dalam paru mempermudah pengeluaran sekresi sekret.
c.       Auskultasi paru sebelum dan sesudah klien batuk.
R/  Pengkajian ini membantu mengevaluasi keefektifan upaya batuk klien.
d.      Ajarkan klien tindakan untuk menurunkan viskositas sekresi : mempertahankan hidrasi yang adekuat; meningkatkan masukan cairan 1000 sampai 1500 cc/hari bila tidak kontraindikasi.
R/ Sekresi kental sulit untuk diencerkan dan dapat menyebabkan sumbatan mukus, yang mengarah pada atelektasis.
e.       Dorong atau berikan perawatan mulut yang baik setelah batuk.
R/ Hiegene mulut yang baik meningkatkan rasa kesejahteraan dan mencegah bau mulut.
f.       Kolaborasi dengan tim kesehatan lain :
Dengan dokter, radiologi  dan fisioterapi.
ò        Pemberian expectoran.
ò        Pemberian antibiotika.
ò        Fisioterapi dada.
ò        Konsul photo toraks.
R/ Expextorant untuk memudahkan mengeluarkan lendir dan menevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya.
      
3.      Perubahan kenyamanan : Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan  dan reflek spasme otot sekunder.
Tujuan : Nyeri berkurang/hilang.
Kriteria hasil :
ò        Nyeri berkurang/ dapat diadaptasi.
ò        Dapat mengindentifikasi aktivitas yang meningkatkan/menurunkan nyeri.
ò        Pasien tidak gelisah.

Intervensi :
a.       Jelaskan dan bantu klien dengan tindakan pereda nyeri nonfarmakologi dan non invasif.
R/ Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan nonfarmakologi lainnya telah menunjukkan keefektifan dalam mengurangi nyeri.
1)      Ajarkan Relaksasi : Tehnik-tehnik untuk menurunkan ketegangan otot rangka, yang dapat menurunkan intensitas nyeri dan juga tingkatkan relaksasi masase.
R/ Akan melancarkan peredaran darah, sehingga kebutuhan O2 oleh jaringan akan terpenuhi, sehingga akan mengurangi nyerinya.
2)      Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut.
R/ Mengalihkan perhatian nyerinya ke hal-hal yang menyenangkan.
b.      Berikan kesempatan waktu istirahat bila terasa nyeri dan berikan posisi yang nyaman ; misal waktu tidur, belakangnya dipasang bantal kecil.
R/ Istirahat akan merelaksasi semua jaringan sehingga akan meningkatkan kenyamanan.
c.       Tingkatkan pengetahuan  tentang : sebab-sebab nyeri, dan menghubungkan berapa lama nyeri akan berlangsung.
R/ Pengetahuan yang akan dirasakan membantu mengurangi nyerinya. Dan dapat membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.
d.      Kolaborasi denmgan dokter, pemberian analgetik.
R/ Analgetik memblok lintasan nyeri, sehingga nyeri akan berkurang.
e.       Observasi tingkat nyeri, dan respon motorik klien,  30 menit setelah pemberian obat analgetik untuk mengkaji efektivitasnya. Serta setiap 1 - 2 jam setelah tindakan perawatan selama 1 - 2 hari.
R/ Pengkajian yang optimal akan memberikan perawat data yang obyektif untuk mencegah kemungkinan komplikasi dan melakukan intervensi yang tepat.

DAFTAR  PUSTAKA



Carpenito, L.J. (1997). Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC.

Depkes. RI. (1989). Perawatan Pasien Yang Merupakan Kasus-Kasus Bedah. Jakarta : Pusdiknakes.

Doegoes, L.M. (1999). Perencanaan Keperawatan dan Dokumentasian keperawatan. Jakarta : EGC.

Hudak, C.M. (1999) Keperawatan Kritis. Jakarta : EGC.

Pusponegoro, A.D.(1995). Ilmu Bedah. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.